Mengaktivasi Perpustakaan Nagari Melalui Kesenian

Sabtu malam, 21 Januari 2017 lalu, Komunitas Gubuak Kopi bersama kelompok pemuda Kelurahan Kampung Jawa Solok, menggelar pentas kesenian remaja kelurahan di Persputakaan Nagari Kelurahan Kampung Jawa, Solok. Kegiatan ini terdiri dari pertunjukan kesenian talempong pacik, beatbox, pembacaan puisi, serta pameran gambar, mural (melukis dinding), dan buku-buku.

Perhelatan ini dihadiri oleh sejumlah tokoh masyarakat, para orang tua remaja, dan sejumlah tamu undangan, baik itu dari kalangan pegiat komunitas ataupun organisasi kepemudaan lainnya. Kegiatan ini dibuka dengan sambutan oleh Bapak Riko selaku Kepala Lurah Kampung Jawa, Solok. Riko, menyampaikan kebanggannya atas keberadaan Komunitas Gubuak Kopi di Kelurahan ini, yang mampu menggerakan dan membimbing generasi muda ke arah yang positif.

Hal senada juga disampaikan oleh Haji Eri selaku tokoh masyarakat setempat yang turut memberikan sambutan dalam kegiatan tersebut,

“kami sangat berterima kasih pada Komunitas Gubuak Kopi, telah membimbing adik-adiknya di sini, yang sebelumnya keluyuran tidak jelas, kemudian kini hadir dengan kreativitas.” Puji Haji Eri dalam sambutannya.

Dalam perhelatan tersebut hadir pula Ibu Rosmini, ketua Bundo Kanduang dan pengelola perpustakaan Nagari, yang menyampaikan terimakasih atas renovasi wajah perpustakaan yang dikerjakan oleh pegiat Komunitas Gubuak Kopi.

Albert Rahman Putra, selaku ketua Komunitas Gubuak Kopi meyebutkan bahwa, ada beberapa tujuan utama yang ingin dicapai oleh Lembaga penelitian penegembangan seni dan media ini. Di antaranya, mengaktivasi ruang publik yang dalam hal ini ada perpustakaan. Menurut Albert, Perpustakaan adalah ruang distribusi pengetahuan yang sangat strategis dalam menyebarkan pengetahuan, serta memperkuat masyarakat sipil.

“Pustaka kelurahan tidak hanya gudang penyimpanan buku, tetapi juga terminal pengetahuan, ruang untuk kita bertemu, berdiskusi, berinteraksi, berbagi informasi, dan berkreativitas, untuk itu kita ingin semua elemen masyarakat dapat terlibat dalam kegiatan ini,” Ungkap Albert saat diwawancarai.

Albert menegaskan, perpustakaan tidak hanya milik para orang tua, pemuda, tapi juga milik remaja dan anak-anak. Dari riset sebelumnya kita melihat, ada rasa malu bagi remaja kelurahan untuk berkunjung dan berkegiatan di perpustakaan. Tiga minggu sebelumnya, remaja-remaja dan anak-anak yang berhasil dijangkau, lalu dikumpulkan dan diberi penjelasan tentang potensi-potensi perpustakaan. Untuk itu lah, kakak-kakak mereka di Komunitas Gubuak Kopi membimbing remaja ini melakukan sejumlah kreativitas di perpustakaan ini, seperti membaca puisi, mural, berlatih talempong pacik, dan daur ulang. Hal ini pertama sekali bertujuan untuk menghilangkan jarak antara perpustakaan dengan mereka.

Selain itu tidak tertutup pula para orang tua untuk berkegiatan di perpustakaan. Desember lalu, Komunitas Gubuak Kopi, bersama ibu-ibu Bundo Kanduang juga berlatih talempong pacik atas inisiatif ibu-ibu ini. Serta dalam perhelatan ini, selain memamerkan karya gambar-gambar, juga memamerkan buku-buku pertanian, perkebunan, dan peternakan yang berpotensi di kelurahan ini.

“Berdasarkan riset kita sejak Agustus 2016 lalu, kita melihat potensi-potensi pertanian maupun peternakan yang dimiliki oleh kelurahan ini, dan ternyata semua referensi itu ada di perpustakaan ini.”

Kegiatan yang bertajuk “Pesta Babaliak Ka Pustaka Nagari” ini dikerjakan secara gotong royong antara Komunitas Gubuak Kopi, pemuda, dan remaja. Dalam kegiatan ini di antaranya terlibat Albert Rahman Putra selaku kurator, serta terdapat sejumlah seniman partisipan yang menyumbangkan pikiran dan waktu mereka untuk membimbing remaja Kelurahan Kampung Jawa, yakni: Volta Ahmad Joneva, Delva Rahman, Dhela Pertiwi, Raenaldi Andrean, Zola Alfiatra, Zekalver Muharam, Teguh Wahyuandri, Tiara Sasmita, Muhammad Risky, dan Rafli Hidayat.

Komunitas Gubuak Kopi adalah sebuah lembaga nirlaba yang berkerja mengembangkan pengetahuan seni dan media bagi warga, serta mengaktivasi ruang public sebagai ruang berbgai pengetahuan, melalui kegiatan kesenian dan kreatif. Organisasi ini berdiri sejak tahun 2011, berbasis di Solok dan dikelola oleh pemuda yang terdiri dari pegiat seni, penulis, jurnalis, dan mahasiswa. Sejak tahun 2016, Komunitas Gubuak Kopi berbasis di Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok.***


Artikel ini sebelumnya telah dipublikasi di media online infosumbar.net, dengan judul Komunitas Gubuak Kopi; Komunitas yang Mengaktivasi Perpustakaan Nagari Melalui Kesenian, tanggal 29 Januari 2017.

Presentasi Publik “Babaliak Ka Pustaka Nagari”

Pada Januari 2017 lalu, Komunitas Gubuak Kopi bersama pemuda Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok menggelar lokakarya aktivasi ruang publik melalui pendidikan literasi media. Dalam lokakarya ini terlibat 7 orang partisipan diantaranya: Volta Ahmad Jonneva, Raenaldy Andrean, Zola Alfitra, Tiara Sasmita, Zekalver Muharam, Muhammad Risky, bersama fasilitator: Albert Rahman Putra dan Delva Rahman. Dalam rangkaian lokakarya ini juga terdapat beberapa lokakarya lainnya oleh partisipan bersama warga dan remaja sekitar Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok, seperti: lokakarya mural, musik tradisi talempong pacik, membaca puisi, dan mendaur ulang. Kegiatan ini diselenggarakan di Solok, dengan pusat lokakarya di Galeri Gubuak Kopi dan Perpustakaan Kelurahan Kampung Jawa.

Kegiatan ini dipresentasikan di Perpustakaan Nagari, Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok, pada 21 Januari, terdiri dari rangkaian pameran dan pertunjukan.


Dokementasi Proses

Tumbuhkan Minat Baca Anak Nagari

Klarifikasi dari Komunitas Gubuak Kopi atas pemberitaan Padang TV, bahwa Perpustakaan Nagari yang disebutkan oleh pembaca berita bukan didirikan oleh Komunitas Gubuak Kopi. Dalam konteks ini, Komunitas Gubuak Kopi hanya berperan mendorong pemuda dan remaja untuk mengaktivasi perpustakaan ini melalui kegiatan goyong royong, seni dan kreatif. Demikian klarifikasi yang sudah disampaikan kepada jurnalis yang bersangkutan.

https://www.youtube.com/watch?v=i2xjp72MdHk


Babaliak ka Pustaka Nagari adalah kegiatan yang diinisiasi oleh Komunitas Gubuak Kopi dalam rangka memperkuat masyarakat sipil melalui gotong-royong, serta mengaktivasi ruang publik sebagai ruang berbagi pengetahuan dan ruang berkreativitas warga. Kegiatan ini diselenggarakan oleh Komunitas Gubuak Kopi bersama pemuda-pemuda lokal di Kelurahan Kampung Jawa, Solok. Kegiatan ini mendorong remaja untuk mengembangkan gotong-royong melalui kegiatan kreatif dan kesenian, mengaktivasi perpustakaan milik kelurahan dengan rangkaian kegiatan, seperti pelatihan mural, pelatihan kesenian tradisi, membaca sastra, membaca puisi, dan workshop daur ulang. Kegiatan tesebut berlangsung sejak 28 Desember 2016.

 

Kurator
Albert Rahman Putra

Fasilitator
Delva Rahman
Dhela Pertiwi
Dinova Rillyade
Tiara Sasmita

Dokumentasi
Dhela Pertiwi
Taufik Saputra.

Seniman Partisipan:
Volta Ahmad Joneva
Raenaldi Andrean
Zola Alfiandra
Muhamad Risky
Zekalver Muharam
Teguh Wahyuandri

Produksi
Komunitas Gubuak Kopi & Pemuda Kelurahan Kampung Jawa, Solok.

Pesta Babaliak ka Pustaka Nagari

Dalam rangka mengaktivasi ruang publik sebagai ajang berbagi pengetahuan serta kreativitas warga dan remaja, Komunitas Gubuak Kopi bersama pemuda serta remaja Kelurahan Kampung Jawa, Solok, menggelar kegiatan gotong royong, mural, dan latihan bersama di Perpustakaan Nagari Kelurahan Kampung Jawa sejak satu bulan terakhir.
Untuk merayakan ini, Komunitas Gubuak Kopi bersama remaja Kampung Jawa, Solok,  menggelar ajang kreativitas remaja, dengan tajuk:
“Pesta BABALIAK KA PUSTAKA NAGARI”
Menghadirkan penampilan:
* Pameran karya mural
* Talempong Pacik
* Beatbox
* Pembacaan Puisi
* Pameran Gambar
* Pameran kerajinan
oleh remaja-remaja Kelurahan Kampung Jawa, Solok.
Sabtu, 21 Januari 2017
20.00 WIB – Selesai
Halaman Pustaka Nagari, Kelurahan Kampung Jawa, Solok.
__________________________________
http://www.gubuakkopi.wordpress.com // facebook Komunitas Gubuak Kopi // instagram @gubuakkopi / @sinemapojok / @solokmilikwarga

Continue reading Pesta Babaliak ka Pustaka Nagari

Lokakarya Mural dan Daur Ulang

Dalam rangka mengaktivasi Perpustakaan Nagari Kelurahan Kampung Jawa, sebagai ruang berbagi pengetahuan warga kelurahan, Komunitas Gubuak Kopi bersama pemuda-pemudi Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok, menyelenggarakan lokakarya mural dan daur ulang sampah, bertajuk “Babaliak Ka Pustaka Nagari”. Acara ini gratis dan terbuka untuk seluruh warga kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok.

Senin, 26 Desember 2016
09.00 wib – selesai
di Perpustakaan Nagari Kelurahan Kampung Jawa, Kota Solok

DIORAMA: Sejarah Adalah Fiksi

DIORAMA adalah platform seni yang digagas oleh Forum Lenteng melalui Program AKUMASSA. Platform ini memiliki fokus pada artefak-artefak sejarah di Indonesia yang merupakan representasi dari kekuasaan. Artefak-artefak tersebut dikaji dan diinterpretasi ulang dengan menggunakan pendekatan seni visual dan media. Platform ini berusaha mengembangkan metode pembacaan demi mencapai suatu tatanan ide dan gaya ungkap (bahasa) yang layak diacu dalam memahami sejarah serta isu sosial-budaya terkait; menciptakan suatu jembatan yang menghubungkan jarak antara artefak-artefak tersebut dan masyarakat. Produk media dan karya visual yang dihasilkan platform ini ditujukan sebagai sebuah cara pandang alternatif yang menekankan sudut pandang warga, sekaligus sebagai produk pengetahuan yang dapat diakses secara bebas. Continue reading DIORAMA: Sejarah Adalah Fiksi

Apresiasi Film Indonesia 2016

Pada tanggal 30 September hingga 1 Oktober 2016 lalu, Pusat Pengembangan Perfilman (Pusbang) Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) Republik Indonesia menggelar rankaian roadshow Apresiasi Film Indonesia (AFI) di beberapa titik di Kota Padang, Sumatera Barat. Roadshow ini adalah bagian dari rangkaian ajang Apresiasi Film Indonesia 2016. Selain di Kota Padang, Roadshow juga diselenggarakan di beberapa kota lain di Indonesia. Di Kota Padang sendiri, roadshow dilaksanakan di dua titik. Pertama, di Kampus Universitas Andalas, pada tanggal 30 September; dan yang kedua, pada tanggal 1 Oktober dilaksanakan di RRI Padang. Continue reading Apresiasi Film Indonesia 2016

Komunitas dalam Pengembangan Pengetahuan Sinema

Pada tanggal 20 Agustus 2016 lalu, ARKIPEL social/kapital – 4th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival menggelar program Forum Festival, Panel ke-5 yang bertajuk “Komunitas dan Pengembangan Pengetahuan Sinema”. Pada bagian forum festival ini, salah satu pembicaranya adalah Albert Rahman Putra.

Albert adalah salah satu pegiat Gubuak Kopi, dalam forum ini ia mempresentasikan aktivitas yang dilakukan bersama Gubuak Kopi di Solok, serta pandangannya terkait aktivitas komunitas film di Indonesia. Selain Albert, materi dalam panel ini juga diisi oleh yaitu Dimas Jayasrana, Fauzi Ramadhani, dan Yuli Lestari. Forum ini dimoderatori oleh Hafiz Rancajale, salah satu pendiri Forum Lenteng dan ruangrupa.

Continue reading Komunitas dalam Pengembangan Pengetahuan Sinema

Catatan Tentang “Sampah dan Orang Sisa-sisa”

Berangkat dari pengantar kuratorialnya, Ronny Agustinus menekankan pergulatan yang tak terelakan oleh semua negara di dunia dengan latar belakang ekonomis apa pun, yakni masalah sampah sebagai sisa-sisa kapitalisme industri. Pemimpin redaksi penerbit Marjin Kiri tersebut mempersembahkan dua filem dalam program kuratorialnya, Sampah dan Orang Sisa-sisa, di Kineforum pada hari Senin, 22 Agustus, 2016  pukul 13:00. Seperti pada program kuratorial ARKIPEL Ronny Agustinus pada tahun-tahun sebelumnya, Amerika Latin kembali diangkat sebagai latar tempat dan budaya.

dscf6327

Ilha Das Flores (1989) merupakan filem pembuka program kuratorial ini dengan durasi 13 menit. Hasil garapan Jorge Furtado, sutradara Brasil, filem ini menggunakan objek tomat sebagai media pengantar penonton menelusuri tahap-tahap kapitalis menuju apa yang disebut kurator sebagai residu lain dari kapitalisme industri, masyarakat yang hidup dari sampah. Ilha das flores memiliki arti harfiah “Pulau Bunga”, namun jauh dari makna denotasi namanya, nama tersebut mengandung sarkasme karena tempat tersebut tidak lebih dari sekedar tempat pembuangan sampah akhir.

Ronny Agustinus.

Ronny Agustinus.

“Deus não existe”, begitulah kalimat pembuka dari filem yang ekuivalen dengan kalimat “Tuhan tidak ada”. Ilha das flores adalah tempat yang penuh keputusasaan tanpa secercah harapan. Filem ini mengandung rasa yang sangat pesimis, tidak ada antusiasme untuk mencari solusi. Narator yang sarkastik mengalienasikan dirinya dari manusia dengan kian menyebut manusia sebagai pihak ketiga dan dengan sengaja tidak ada usaha untuk menarik penonton sebagai bagian dari manusia yang tampak pada layar.

dscf6319

Hal di atas sangat kontras dengan filem kedua. Landfill Harmony (2015) adalah filem kedua yang diputar dengan durasi 101 menit. Disutradarai oleh sutradara asal Amerika Serikat, Brad Allgood, filem ini merupakan produksi Paraguai yang menunjukkan perjalanan sekelompok pemusik anak-anak. Hal yang membuat mereka berbeda ialah latar belakang mereka sebagai anak-anak dari para tukang sampah atau gunchero di sebuah kota tempat penampungan sampah bernama Cateura, serta pemanfaatan sampah yang didaur ulang sebagai alat musik.

_abe7704

_abe7695

_abe7690

_abe7689

Bertolak belakang dengan filem sebelumnya, Landfill Harmony bernada jauh lebih optimis sekaligus memberikan inspirasi. Pendekatan artistik yang terdapat dalam filem menunjukkan tahap yang berlawanan arah dari filem pertama. Ditampilkan secara kronologis, keterpurukan diangkat menjadi titik berangkat. Dipupuk oleh kerja keras dan semangat, hasil akhirnya adalah sesuatu relatif jauh lebih pantas dari sebelumnya. Pada awal filem, anak-anak tersebut tidak lebih dari pemusik amatir yang bahkan masih gemetar menyentuh alat-alat musik daur ulang, namun pada akhirnya mereka berhasil bersanding dengan pemusik internasional

Di hadapan dua belas penonton lainnya, Albert dari Forum Lenteng memberikan tanggapan, khususnya terhadap filem kedua. Bagi Albert, perspektif dari filem kedua cukup kapitalis. Pengakuan media-media besar seperti yang ditunjukkan dalam filem tentang eksistensi para tokoh adalah salah satu kode kapitalisme. Ronny Agustinus menyetujui pendapat tersebut dan demikianlah yang ingin ia tunjukkan, bahwa ada dua sikap dalam membahas wacana antroposen ini.

Antroposen sendiri merupakan istilah yang kerap digunakan kurator dan sesungguhnya merupakan istilah yang terhitung baru dan belum cukup populer. Antroposen merujuk pada kondisi dan situasi perubahan yang berlangsung di bumi yang kian dipengaruhi manusia. Melihat ke belakang, alam telah berjuta-juta tahun lamanya berperan dalam menentukan nasibnya, namun sejak tahun 1950-an, manusialah yang memiliki pengaruh ekstrem.

Mungkin memang kurang adil membandingkan kedua filem tersebut mengingat keadaan demografis Brasil dan Paraguai jauh berbeda. Sebagai negara terluas kelima di dunia, Brasil mengalami kesulitan dalam meluruskan sistemnya. Meskipun demikian, Ronny Agustinus memang menyajikan kedua filem yang kontras ini sebagai bahan pertimbangan dan refleksi.


Artikel ini sebelumnya pernah dipublikasi di arkipel.org dengan judul Catatan Tentang “Sampah dan Orang Sisa-sisa”

oleh Aprilia Agatha Gunawan.

Aprilia A. Gunawan

Aprilia A. Gunawan

 lulusan Sastra Prancis, Universitas Indonesia, tahun 2012. Selain mengajar, saat ini ia juga aktif berkegiatan di Kineforum, Taman Ismail Marzuki. Menggemari filem, bahasa asing, dan kebudayaan Irlandia.

Peran Komunitas dalam Pengembangan Pengetahuan Sinema

Perkembangan sinema sampai sekarang tak luput dari pihak-pihak yang berkontribusi untuk mengembangkan pengetahuannya, salah satu pihak yang memegang peran penting dalam hal ini adalah komunitas. Meskipun bukan organisasi resmi, komunitas kerap dijadikan wadah untuk melakukan aktivitas di bidang perfileman sebagai sarana apresiasi, eksibisi, forum diskusi, dan lain-lain. Dalam realitanya, program yang dijalankan oleh komunitas sering kali memiliki tantangan tersendiri baik dalam konteks eksternal maupun internalnya.

_ABE6839

Bertempat di GoetheHaus, Jakarta, pada tanggal 20 Agustus 2016 ARKIPEL social/kapital – 4th Jakarta International Documentary & Experimental Film Festival menggelar program Forum Festival, Panel ke-5 yang bertajuk “Komunitas dan Pengembangan Pengetahuan Sinema”. Pada bagian terakhir dari forum festival ini hadir deretan panelis penggiat filem dalam komunitasnya, yaitu Albert Rahmat Putra, Dimas Jayasrana, Fauzi Rahmadani, dan Yuli Lestari, dan dimoderatori oleh Hafiz Rancajale, salah satu pendiri Forum Lenteng dan ruangrupa.

Dimas yang pernah mendirikan filmalternatif.org dan menjadi programer di IFI Jakarta, dan kini adalah pegiat Festival Film Purbalingga menyebutkan kegiatan utama komunitas adalah berdiskusi dan berdialog untuk menyebarkan pengetahuan mengenai sinema. Hal ini penting untuk dilakukan mengingat masyarakat Indonesia masih minim exsposure kepada sinema karena terbatasnya jangkauan kepada media tersebut. Sebagai alternatifnya, perlu diadakan festival filem, lokakarya, dan kegiatan-kegiatan lain yang dapat menyebarkan pengetahuan mengenai sinema, seperti sejarah dan wacana estetika. Dimas juga merasa terbantu oleh perkembangan teknologi informasi dan komunikasi sehingga arus pertukaran informasi terkait filem menjadi cepat dan mudah.

Kemudian, Fauzi yang pernah menjabat menjadi Direktur Program Layar Kamisan Jember, Koordinator JAFF Community Forum, serta Ketua Divisi Litbang UKM Dewan Kesenian Kampus, menceritakan keadaan komunitas produksi filem di Jember yang menjamur, namun masih sulit ditemui komunitas yang menyediakan ruang putar filem bagi masyarakat. Sedangkan di Banyuwangi, pemutaran filem dijadikan sebuah sarana untuk diskusi suatu isu yang sensitif bagi kalangan tertentu. Tak jarang, kegiatan ini ditekan oleh pihak-pihak yang merasa terancam. Fauzi  berpendapat bahwa perlu adanya diskusi terarah dan struktur untuk membahas suatu isu tersebut.

Albert, yang merupakan pendiri dan penggiat komunitas Gubuak Kopi dan aktif berkegiatan di Solok, Sumatera Barat, menyebutkan bahwa tugas utama komunitas adalah memahami persoalan yang ada dan menemukan referensi sinema yang cocok untuk dijadikan umpan dalam diskusi. Komunitas harus pintar dalam menggiring perhatian publik untuk sadar akan kebudayaan sinema, tak terkecuali di daerah. Pengalaman Albert sendiri adalah membuat layar tancap di daerah-daerah dan melakukan diskusi ringan pasca menonton untuk menyalurkan pengetahuan sinema kepada masyarakat setempat. Namun, hal ini bukanlah mudah karena sebagian penonton akan enggan untuk berdiskusi. Adalah tugas besar dari komunitas sinema untuk menyadarkan bahwa filem bukanlah sekadar hiburan, tetapi juga sebagai teks yang perlu diuraikan.

Di Malang, realita kegiatan produksi filem kebanyakan dilakukan oleh pelajar untuk melengkapi tugas sekolah. Oleh karena itu, Yuli beserta komunitasnaya, Kine Klub UMM, membuat acara yang bertujuan untuk menanamkan kecintaan dan apresiasi terhadap filem, salah satunya eksibisi filem. Namun, kegiatan-kegiatan seperti ini ditanggapi kurang baik oleh pihak eksternal. Sekolah-sekolah, misalnya, menentang siswanya untuk mengikuti karena dirasa tidak akan memberikan manfaat baik kepada siswa maupun sekolah. Padahal, dengan mengadakan screening dan apresiasi, ada umpan balik yang diberikan oleh penonton yang bisa membantu membangun karya di masa depan.

Dari kiri ke kanan: Hafiz Rancajale (moderator), Yuli Lestari (Malang Film Festival), Fauzi Rahmadani (Layar Kamisan Jember), Dimas Jayasrana (Festival Film Purbalingga), Albert Rahman Putra (Komunitas Gubuak Kopi, Solok).

Dari kiri ke kanan: Hafiz Rancajale (moderator), Yuli Lestari (Malang Film Festival), Fauzi Rahmadani (Layar Kamisan Jember), Dimas Jayasrana (Festival Film Purbalingga), Albert Rahman Putra (Komunitas Gubuak Kopi, Solok).

Forum Festival ARKIPEL social/kapital, Panel 5 kala itu, dikunjungi oleh 50 peserta yang mempunyai antusiasme dan keingintahuan tinggi. Itu ditandai dengan total 8 pertanyaan yang diajukan. Topik modal materiil untuk keberlangsungan komunitas disinggung dalam pertanyaan, dan kemudian ditanggapi oleh penanya selanjutnya dengan menanyakan bagaimana menjaga keberlangsungan komunitas itu sendiri. Dimas memberikan strategi seperti donasi, sinema berbayar, program sekolah sinema jangka pendek bertarif. Yuli menambahkan bahwa perlu mendekati birokrat dan menyisihkan uang pribadi. Sementara itu, untuk masalah keberlansungan, Albert menyatakan perlu bagi komunitas untuk melakukan penelitian dan evaluasi, dan Dimas lebih menekankan kepada inisiatif dan intensitas kegiatan yang dijalankan. Moderator kemudian menambahkan bahwa modal materiil bisa dilakukan dengan metode alternatif. Bagian terpentingnya adalah bagaimana membangun kepercayaan di tingkat lokal dan masyarkat.

Salah seorang peserta Forum Festival yang bertanya tentang strategi bertahan komunitas.

Salah seorang peserta Forum Festival yang bertanya tentang strategi bertahan komunitas.

 

Oka, dari Komunitas Pasirputih (Lombok Utara) turut berbagi pengalaman mengenai pengelolaan komuitas di daerahnya.

Oka, dari Komunitas Pasirputih (Lombok Utara) turut berbagi pengalaman mengenai pengelolaan komunitas di daerahnya.

Masalah regenerasi juga disinggung dalam pertanyaan, karena regenerasi juga menjadi faktor utama untuk keberlanjutan komunitas itu sendiri. Fauzi menyebutkan bahwa belum ada jawaban yang tepat untuk mengatasi masalah regenerasi. Poin menarik dari Dimas adalah komunitas mempunyai hak untuk mempertahankan status quo karena komunitas bukanlah badan resmi. Semua hal diserahkan kepada kesadaran dari komunitas itu sendiri. Forum ini kemudian ditutup dengan kesimpulan dari Hafiz bahwa yang menentukan identitas komunitas adalah kepublikannya, yang bisa dihitung secara kuantitatif dengan jumlah orang yang berpartisipasi dalam kegiatan yang ada, ataupun kualitatif dari isu-isu yang ditawarkan dan dianggap penting. Banyak cara alternatif untuk menjaga komunitas sekaligus menyebarluaskan pengetahuan mengenai sinema, seperti lokakarya, dan proyek bersama dengan pihak-pihak eksternal. Saat Forum Festival Panel 5 ini ditutup oleh moderator, tampak beberapa peserta masih ingin bertanya dan berdiskusi, namun urung karena waktu yang telah usai.

 


Artikel ini sebelumnya pernah dimuat di arkipel.org dengan judul Festival Panel 5 oleh Nadia Adilina
Nadia Adilina
(lahir di Jakarta, 18 Maret 1996), mahasiswa jurusan Ilmu Komunikasi Universitas Indonesia. Aktif di Himpunan Mahasiswa Ilmu Komunikasi. Menaruh perhatian pada bidang seni visual