SINEMA DI POJOK PASAR KITA

Selamat Hari Filem Nasional!

Dalam rangka merayakan hari filem nasional pada 30 Maret mendatang, Komunitas Gubuak Kopi bersama Rumah Kreatif Solok menggelar agenda penayangan filem di Pasar Raya Kota Solok dan di Taman Belajar Gubuak Kopi.

Rubuhnya gedung bioskop tua di sudut persimpangan pasar raya Kota Solok penghujung 2012 lalu, hingga saat ini terkenang sebagai simbol tidak adanya perhatian dan keberpihakan pemerintah sebelumnya terhadap kultur sinema di Solok. Tapi persoalannya memang tidak sesederhana itu, mudahnya akses ke ibu kota (Padang, yang nyatanya lebih maju), kegagalan perusahaan (bioskop) dalam monopoli filem, serta maraknya vcd/dvd bajakan dan hadirnya filem-filem bioskop di televisi, sering kali dianggap sebagai penyebab utama punahnya bioskop ini. Pembiaran ini (merubuhkan bioskop) salah satunya merupakan bukti tidak berkembangnya pengetahuan sinema di kota kecil yang dulu sangat ramai ini. Pemahaman di atas, barang kali menunjukan bahwa bioskop/sinema/filem semata-mata dianggap barang industri, yang kemudian oleh istilah pasar “galeh ndak laku, tapaso mangguluang lapiak” (kalau barang dagangan tidak dibeli, mau tidak mau gulung tikar).

Mimpi mengenai ruang tayang yang nyaman (bioskop) untuk para pegiat sinema lokal memang perlahan padam, tapi itu tidak berarti mustahil dan hambatan besar. Setelah beberapa kali melakukan penayangan dan diskusi filem, Komunitas Gubuak Kopi pada tahun 2015 meluncurkan progrom yang kami sebut Sinema Pojok. Sebuah ruang distribusi dan pengembangan pengetahuan sinema. Kegiatan ini berlanjut menjadi agenda penayangan filem reguler – dua minggu sekali, hingga sekarang. Menghadirkan filem-filem sejarah, fiksi, dokumenter, eksperimental, klasik, dan filem-filem yang diangap penting dalam sejarah sinema dunia. Pada perhelatan hari filem nasional kali ini Sinema Pojok akan kembali hadir di tengah masyarakat Solok dengan agenda yang sedikit unik, yang pertama adalah mengingatkan kembali siapa dan dari mana bapak perfileman nasional berasal, dan kemudian mengambarkan pemahaman sinema yang tidak cuma soal hiburan dan pasar.

Silahkan hadir!

leftlet


 

Berikut Pilihan Filem dan Jadwal Tayang:

HARIMAU TJAMPA (1953)

trailer filem Harimau Tjampa

Sutradara: D. Djajakusuma | Produser: Usmar Ismail (Perfini) | 97 Menit | Bahasa: Indonesia | Subteks: English

Sinopsis:

Dengan dendam terhadap pembunuh ayahnya, Lukman (Bambang Hermanto) berguru silat di kampung Pau. Mula-mula ia meminta pada Datuk Langit (Rd Ismail), tetapi dimintai bayaran tiga kerbau. Akhirnya ia belajar pada seorang guru yang dilihatnya berhasil mengalahkan musuhnya dalam sebuah perkelahian. Guru ini memberi syarat agar silatnya tidak dipergunakan dengan sembarangan, dan Lukman pun berjanji. Berulang kali janji itu dilanggar, tetapi selalu dimaafkan oleh gurunya itu, hingga ia tamat memperoleh ilmu silat. Janji ini dilanggar lagi saat ia tengah berjudi. Bandar judi yang menghalangi percintaannya secara tidak sengaja tertusuk pisaunya sendiri. Lukman pun masuk ke dalam penjara. Di dalam penjara itu diperoleh kepastian bahwa pembunuhan itu atas perintah kepala negeri, yaitu Datuk Langit. Lukman meloloskan diri dari penjara untuk membuat perhitungan. Datuk Langit diringkus dan diserahlan ke polisi sebagai pembunuh, sedangkan Lukman juga menyerahkan diri buat menjalani sisa hukumannya

Tayang pada:

  • Rabu, 30 Maret 2016
  • 19.30 wib
  • Area Parkir Pasar Raya Semi Modern Kota Solok (Depan Taman Kota/sebelah pasar daging)

 

DARAH DAN DOA (1950)

trailer filem Darah dan Doa

Sutradara: Usmar Ismail | Produksi: Perfini | 128 menit |Bahasa: Indonesia | Subteks: English

Sinopsis: 

Film ini mengisahkan perjalanan panjang (long March) prajurit divisi Siliwangi RI, yang diperintahkan kembali ke pangkalan semula, dari Yogyakarta ke Jawa Barat setelah Yogyakarta diserang dan diduduki pasukan Kerajaan Belanda lewat Aksi Polisionil. Rombongan hijrah prajurit dan keluarga itu dipimpin Kepten Sudarto (Del Juzar). Perjalanan ini diakhiri pada tahun 1950 dengan diakuinya kedaulatan Republik Indonesia secara penuh.

Film ini lebih difokuskan pada Kapten Sudarto yang dilukiskan bukan sebagai pahlawan tetapi sebagai manusia biasa. Meski sudah beristri di tempat tinggalnya, selama di Yogyakarta dan dalam perjalanannya ia terlibat cinta dengan dua gadis. Ia sering tampak seperti peragu. Pada waktu keadaan damai datang, ia malah harus menjalani penyelidikan, karena adanya laporan dari anak buahnya yang tidak menguntungkan dirinya sepanjang perjalanan

Tayang pada:

  • Kamis, 31 Maret 2016
  • 19.30 wib
  • Taman Belajar Gubuakkopi
  • Jalan Yos Sudarso, no 427, Kelurahan Kampung Jao, Kota Solok. (TK Alquran lama/Belakang Andeska motor)

 

Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan (2012)

trailer filem Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan

Sutradara: Hafiz Rancajale | Produksi: Forum Lenteng | 158 Menit | Bahasa: Indonesia | subteks:

Sinopsis:

Anak Sabiran, Di Balik Cahaya Gemerlapan (Sang Arsip) mencoba membaca gagasan pengarsipan filem yang ada di dalam pikiran Misbach Yusa Biran sebagai seorang tokoh yang menyerahkan seluruh hidupnya untuk mengawetkan wacana dan memaknainya kembali sebagai sumber sejarah perfileman Indonesia yang disimpannya di Sinematek Indonesia.

Tayang pada:

  • Kamis, 31 Maret 2016
  • 19.30 wib
  • Taman Belajar Gubuakkopi
  • Jalan Yos Sudarso, no 427, Kelurahan Kampung Jao, Kota Solok. (TK Alquran lama/Belakang Andeska motor)

 

Mari hadir dan ramaikan!

cover lakang

 

PELAJAR SOLOK BELAJAR SENI GRAFIS BERSAMA GUBUAKKOPI

Sabtu, 27 februari 2016, Komunitas Gubuak Kopi menggelar “Workshop Seni Grafis” yang diikuti berbagai pelajar, anak-anak, dan umum di Kota dan Kabupaten Solok. Kegiatan ini tepatnya diselenggarakan di Gallery Gubuakkopi, di Kelurahan Kampung Jao, Kota Solok.

 

Kegiatan ini adalah salah satu rangkaian dari program Kelas Warga edisi Februari, yang diagendakan oleh Komunitas Gubuak Kopi dalam distribusi pengetahuan seni, dan memperkenalkan seni sebagai media bagi warga. Kegiatan ini mulai pada siang hari dan berakhir hingga sore hari. Diawali dengan pengantar Seni Sebagai Media oleh Albert Rahman Putra. Para peserta diajak mengenal praktek berkesenian sebagai media setiap orang dalam mengkomunikasikan apa yang menjadi ekspresi dan aspirasi mereka. Hal ini terutama ditujukan sebagai respon atas minimnya koten muatan lokal yang memperpanjang suara warga di media arus utama. Menurut Albert, sebagian besar konten media lokal lebih mengedepankan kepentingan citra ‘kalangan atas’ dan pemilik modal. Dan ini salah satunya berdampak pada keapatisan warga dalam membangun daerahnya.

DSC_2126

Albert  saat memberi pengarahan pada peserta workshop

Albert, selaku ketua Komunitas Gubuak Kopi juga mengajak para peserta, yang sebagian besar mewakili sekolahnya, untuk membentuk kelompok belajar ataupun kelompok seni untuk mengembangkan kemampuan berkesenian yang ia dapat dari kegiatan hari itu. Selain itu juga mengajak para peserta ini nantinya mampu mengembangkan segala bidangnya untuk berpihak pada kepentingan lingkungan dan orang-orang di sekitarnya.

Rangkaian kegiatan ini dilanjutkan dengan pengenalan seni grafis oleh Volta Ahmad Joneva. Merupakan salah satu anggota dari Komunitas Gubuak Kopi yang mendalami seni rupa grafis. Dari sekian banyak gaya dan teknik seni grafis yang diperkenalkan Volta, ia memilih gaya dan teknik grafis manual untuk dikenalkan pada para pelajar. Selain teknik ini sederhana, teknik ini juga merupakan teknik yang cukup jarang didapatkan oleh pelajar di sekolahnya.

DSC_2142

Volta dan Roro saat memberikan materi workshop seni grafis

Di bawah arahan Volta dan kakak-kakak Komunitas Gubuak Kopi, para peserta diajak untuk menetukannya sket gambar yang mereka ingikan. Kemudian mentrasnfernya secara miror (cermin/terbalik) ke karet lino yang telah disediakan oleh panita. Gambar yang telah ditransfer, ‘dicukil’ dan kemudian diberi cat untuk ditempel (sablon) ke media mereka, seperti kertas, kaos, atau tas. Seperti yang telah diundangkan para peserta, dianjurkan membawa masing-masing satu buah kaos.

Peserta dibebaskan untuk membawa pulang cetakan (cukilan di karet lino) mereka. Dan juga peserta diberi kesempatan untuk menyablon sendiri kaos yang mereka bawa. Selain itu setiap cetakan juga ditempalkan pada media kertas sebagai arsip bagi Komunitas Gubuak Kopi. Seperti yang telah disepakati sebelumnya karya yang dicetak pada media kertas ini juga akan dipamerankan sewaktu-waktu oleh Komunitas Gubuak Kopi.

 


Lihat dokumentasi foto lainnya:

Dokumentasi Video

KELAS WARGA: WORKSHOP SENI GRAFIS (SENI SEBAGAI MEDIA)

Komunitas Gubuak Kopi dengan bangga mempersembahkan Workshop Seni Grafis (Seni Sebagai Media) pada Sabtu, 27 Februari 2016, pukul 11.00 WIB, di Gallery Gubuakkopi: Jln. Yos Sudarso, no 427, Kelurahan Kampung Jao, Solok (TK Al Quran lama / Belakang Andeska)

 

Sejak akhir tahun 2015, Komunitas Gubuak Kopi dan warga Kota Solok secara aktif melakukan kolaborasi dan kegiatan-kegiatan bersama, terutama dalam rangka mengembangkan praktik serta pengetahuan seni dan media. Agenda tersebut ditujukan sebagai salah satu respon atas tidak maksimalnya peran ‘media lokal’ dalam menjembatani aspirasi warga. Sebagian besar konten media membicarakan kepentingan-kepentingan kelas atas/petinggi daerah dan pemilik modal. Pola seperti ini bisa ditemukan hampir diseluruh daerah. Dalam konteks Solok, pola ini salah satunya berdampak pada sikap ‘apatis’ warga terhadap pembangunan daerahnya. Menyikapi hal itu, di sepanjang tahun 2016 Komunitas Gubuak Kopi mencanangkan beberapa kegiatan berupa pengenalan ‘media’ sebagai alternatif warga dalam menyampaikan aspirasinya, atau dalam kalimat lain memberdayakan seni sebagai media warga untuk terlibat aktif dalam menentukan arah pembangunan daerahnya.

Pada kesempatan ini, Komunitas Gubuak Kopi melalui program Kelas Warga edisi Februari, mengenalkan Seni Grafis yang bisa menjadi salah satu pilihan warga. Kegiatan kali ini melibatkan beberapa kelompok dan pelajar dalam tingkat sekolah menengah atas sebagai peserta workshop. Agenda ini akan dibimbing oleh Volta Ahmad Joneva sebagai pemateri workshop dan Albert Rahman Putra sebagai pengantar wacana ‘Seni Sebagai Media’. Kegiatan ini juga terbuka untuk umum, setiap peserta undangan diminta untuk membawa satu buah kaos polos sebagai salah satu media grafis di luar yang disediakan panitia.

DOC. SINEMA POJOK 7

Dokumentasi penayangan: Emak Bakia (Leave Me Alone) karya Man Ray (France, 1926), 16 Menit, bisu; dan Marah di Bumi Lambu karya Hafiz Rancajale (Indonesia, 2014), 93 menit. Bahasa Indonesia.

Sabtu, 20 Februari 2016

19.39 Wib
at Palanta Sinema Pojok Gubuakkopi.
Jln Yos Sudarso, 427, Kelurahan Kamp. Jawa, Kota Solok. (TK Al quran lama)

Link terkait: Poster Sinema Pojok #7 


foto oleh

Taufik, Dhely, Albert

SINEMA POJOK #7

Penayangan:

Emak Bakia (Leave Me Alone) karya Man Ray (France, 1926), 16 Menit, bisu

MARAH DI BUMI LAMBU
karya Hafiz Rancajale (Indonesia, 2014), 93 menit. Bahasa Indonesia

Free
Sabtu ini, 20 Februari 2016.
19.39 Wib
at Palanta Sinema Pojok Gubuakkopi.
Jln Yos Sudarso, 427, Kelurahan Kamp. Jawa, Kota Solok. (TK Al quran lama)

Sinema Pojok #6

 

Penayangan:

Bridges Go-Round (1958) karya Shiley Clarke | Amerika | 4 Menit | Bisu.

Home (2009) karya Yann Arthus-Bertrand | France | 93 Menit | English / Subteks: B.Indonesia

Free

Sabtu, 30 Januari 2016

19.30 WIB

di Palanta Gubuakkopi Jalan Yos Sudarso, 427, Kampung Jao.

MENGENAL DAN MERAWAT TRADISI

Pada Senin 16 januari 2016, di Palanta Komunitas Gubuak Kopi berlangsung persentasi dan diskusi menarik bertemakan “music.locality.achiving” (Musik, Lokalitas, dan Pengarsipan). Diskusi ini pada dasarnya merupakan persentasi penelitian Palmer Keen bersama Albert Rahman Putra di beberapa daerah, di wilayah budaya Minangkabau. Duo peneliti dan pengarsip kesenian lokal ini, bersama Komunitas Gubuak Kopi sengaja memilih tema tersebut mengingat semakin berkurangnya kesadaran untuk mengenali dan mengembangkan kebudayaan lokal di Sumatera Barat.

 “apa lagi di buku-buku kesenian sekolahan, sebagian besar muatannya adalah Jawa.”

Palmer Keen adalah seorang pengarsip seni tradisi dari Los Angles-USA, Sejak empat tahun terakhir juga aktif mendokumentasikan dan mempublikasi kesenian tradisi (lokal) di Nusantara melalui situs yang dikelolanya http://www.auralarchipelego.com. Menurutnya kasus serupa sebenarnya tidak hanya terjadi di Sumatera Barat, tapi juga terjadi di banyak daerah di Nusantara (Indonesia). Kurangnya informasi dan publikasi dalam bahasa Inggris menjadi salah satu asalan Palmer untuk menjalani proyek ini. Sungguh pun begitu, kegiatan yang ia lakukan tidak hanya untuk orang di luar Indonesia saja tetapi juga untuk komunitas lokal.

“bagi saya idealnya mengembangkan dan melestarikan seni tradisi adalah tanggung jawab komunitas lokal itu sendiri, tidak pemerintah, ataupun universitas.”

Bagi Palmer hal itu harus segera dilakukan mengingat sedikitnya regenerasi dari kesenian yang sangat menarik dan langka. Beberapa kesenian yang diteliti waktu itu diantaranya: Talempong Sambilu (Silungkang, Sawahlunto), Saluang Sirompak (Taeh Baruah, Payakumbuh), Talempong Batu (Suliki, Limopuluah Koto), Basijobang (Sungai Tolang, Payakumbuh), dan Muluk (Lintau). Kesenian ini pada dasarnya merupakan kesenian yang hanya ditemukan di daerah itu saja.

Dalam diskusi tersebut Palmer juga menyampaikan kekagumannya atas aksi Pak Umar yang berusia sekitar 80 tahun namun masih kuat bermain dan membuat alat musik tersebut. Sebenarnya kesenian ini juga pernah dikenalkan di sekolah-sekolah di Sawahlunto namun di daerah Silungkang itu sendiri tidak ada regenerasinya.

“sedangkan kesenian itu adalah kesenian Silungkang bukan Sawahlunto, artinya ia adalah representasi daerah lokal itu, daerah yang asri pebukitan Silungkang, bukan Kota Tambang, Sawahlunto.”

Menanggapi Talempong Botuang, Albert yang sebelumnya juga pernah menulis tentang ini, menambahkan, bahwa kesenian ini memiliki dua repertoar (lagu) yang menarik, yakni berjudul “Malereng Ngarai Basurek” dan “Mandaki Ngarai Basurek” dua lagu ini sebenarnya representasi dari aktivitas masyrakat Silungkang itu sendiri, terutama daerah tempat bapak Umar ini. Ngarai Basurek adalah nama tempat pebukitan disana, malereng (menurun) dan mandaki (mendaki) adalah aktivitas yang mereka lewati setiap harinya untuk berkebun dan berinteraksi dengan warga lainnya. Hal ini lah ciri khas musik di Minangkabau, yang sangat dekat keadaan lokanya dan juga sebagai dokumentasi keseharian mereka. Secara musikal lagu-lagu ini kedua lagu ini memiliki krakter kontras, yang satu contour (kontur/pola gari nada) nadanya naik, dan yang satu lagi turun, sesederhana itu, kira-kira begitu cara mereka menikmati keseharian mereka.

Kemudian temuan menarik juga mereka ditemukan di Suliki, tak jauh dari rumah kelahiran Tan Malaka. Di sana terdapat Talampong Batu yang bisa dikatakan sangat kuno. Seperti yang dikatakan Palmer, Jarang sekali ada peradapan yang memainkan musik dari media Batu. Yang membuatnya menarik adalah keterputusan sejarah mengenai musikal dari kesenian ini. Sebelumnya batu itu menurut warga lokal merupakan batu-batu yang terpencar. Kemudian disusun berdasarkan ukuran, lalu setelah datangnya beberapa akademisi dari Aski Padangapanjang (ISI Padangpanjang) susunan batu ini ditata untuk bisa diamainkan seperti kesenian Talempong Pacik yang sangat umum di Minangkabau. Warga lokal sendiri tidak mengetahui alasan pengulangan susunan itu, selain agar bisa dimainkan seperti talempong pacik. Palmer sangat menyayangkan hal itu, kesenian ini menjadi tidak lagi organik.

Berikutnya adalah kesenian Muluk, sebuah kesenian vokal yang melantunkan syair berupa pujian terhadap nabi Muhammad selaku pemimpin umat Islam. Syair yang berbahasa Arab itu menurut Palmer terasa ‘sangat minang’. Ia mengaku walau tidak mengerti bahasa Arab ia bisa merasakan nyanyian itu cukup menyentuh perasaannya. Dengan demikian, seperti yang ditambahkan Albert, kesenian ini digunakan sebagai salah satu dakwah dan cara pengembangan agama Islam di Minangkabau. Ada beberapa kesenian lokal lainnya yang melakukan hal seperti, negosiasi antara “Agama dan kebudayaan” yang tercermin dalam kesenian. Dari sini kita bisa mengimajinasikan bagaimana agama itu begitu melekat dalam diri Orang Minang.

“Tentunya cara ini sangat berbeda dengan cara yang dibawa oleh Imam Bonjol ataupun seperti banyak ulama yang ‘kearab-araban’ sampai di Indonesia.” Albert

Ada banyak peristiwa kesenian lokal lainnya yang juga menarik untuk dibicarakan malam itu. Nantikan kuliah dan diskusi menarik lainnya di Program Kelas Warga Gubuak Kopi.

___________

(hms)

Kelas Warga: Musik, Lokalitas, dan Pengarsipan

Pada kesempatan kali Komunitas Gubuak Kopi kedatangan seorang etnomusikolog muda asal Los Angles, Amerika Serikat. Palmer Keen, demikian nama pemuda yang sudah meneliti dan mengamati musik tradisional Indonesia sejak kurang lebih empat tahun terakhir. Beberapa dokumentasi dan hasil penelitianya bisa kita lihat di website yang dikelolannya, Aural Archipelago.

Pada 13 Januari 2016 lalu, Palmer datang untuk melakukan beberapa agenda penelitian musik tradisi di Minangkabau bersama Albert Rahman Putra (penulis dan peneliti di Gubuakkopi). Penelitian difokuskan pada beberapa kesenian lokal, lebih tepatnya hanya berkembang dan hanya ditemukan dibeberapa wilayah tertentu saja. Di antaranya adalah Talempong Sambilu atau Talempong Botuang (Silungkang, Sawahlunto), Sirompak (Taeh Baruah, Payakumbuh), Talempong Batu (Suliki), Basijobang (Sungai Tolang), Muluk (Lintau) dan berikutnya Talempong Unggan (Sumpur Kudus). Kesenian-kesenian ini menurut Albert mewakili karakter umum musik yang (pernah_red) berkembang dan ada di Minangkabau: musik rakyat (folklore), ritual (black magic), religius (Minang-Islami), dan musik upacara ke-adat-an (seremonial).

“Kesenian ini juga bisa disebut langka, dan masih banyak lagi sebenarnya, tapi cukup sulit untuk mencari mereka sekarang, dan informasi tentang ini tidak banyak diketahui warga lokal. Beberapa informasi (mendalam) di antaranya hanya terdapat di buku-buku hasil penelitian di Eropa. Tapi beruntung beberapa di antaranya pernah saya temui dan beberapa teman membantu kami untuk menemukannya,” ujar Albert di Markas Gubuak Kopi.

Kali ini, Palmer Keen akan mempresentasikan dan mendiskusikan beberapa temuannya selama penelitian tersebut. Selain itu, diskusi juga akan membahas persoalan tanggung jawab dan peran komunitas/masyarakat lokal dalam memahami dan mengembangkan identitas kebudayaan mereka.

Diskusi ini akan berlangsung pada Senin, 18 Januari 2016, di Palanta Gubakkopi, Jalan Yos Sudarso, No 427, Kelurahan Kampung Jawa, Solok.

Trailer “Bermain Ketapel”

Bermain Ketapel (2015) Adalah sebuah karya dokumenter yang dikerjakan oleh Komunitas Gubuak Kopi bersama Kelompok Baraja Filem yang terdiri dari anak-anak sekolah dasar di Aia Mati, Kota Solok. Filem ini menyajikan realitas aktivas anak-anak yang ingin bermain katapel, menjadikan tantangan sebagai alasan untuk bermain bersama, walau tantangan itu sebenarnya bukanlah hal yang penting dari pada kesempatan untuk bermain bersama.

Kelompok Baraja Filem diinisiasi oleh Komunitas Gubuak Kopi, sebagai pengembangan beberapa agenda utama: belajar empati, belajar sinema, pemtaan masalah, dan dokumentasi permainan anak di Kota Solok.

Tunggu jadwal tayangnya di @sinemapojok @gubuakkopi

DOC. KELAS BACA BERJAMAAH – BLACK BEAUTY

Kali ini kelas baca berjamaah Kelompok Barajafilem dan Komunitas Gubuak Kopi dapat buku baru, sesuai yang dijanjikan oleh Albert Rahman Putra sebelumnya (lihat:KELAS BACA BERJAMAAH – GERIMIS SEPANJANG TAHUN), bahwa kali ini kelas jamaah – selain mengembangkan budaya membaca – akan mengajak anak-anak semakin akrab dengan “menyayangi semua makhluk hidup”.

Black Beauty karya Anna Sewell adalah salah satu buku legendaris yang direkomendasikan untuk dibaca segala umur, terutama untuk melatih empati anak-anak terhadap setiap makhluk yang hidup. Di Solok, binatang sering kali diperlakukan sebagai benda, mainan, atau makhluk yang tidak bernyawa. Kita bisa lihat pembasmian anjing yang secara terang-tarangan, menjadikan binatang sebagai alat kemewahan, jual beli kulit, taring, kuda yang dipaksa melakukan perkejaan berat, dan lain sebagainya yang bisa kita saksikan langsung saat ini.

Sempat hadir beberapa masukan mengenai, bagaiman kalau kelas baca ini juga diiringi dengan peragaan ekspresi atau sejenisnya. Misal ketika si kuda merengek, maka si pembaca juga merengek. Masukan ini sangat bagus dan menjadi tantangan sendiri bagi kami. Tapi kali ini, kita sedang fokus pada kebiasaan mereka untuk membaca dan disimak oleh teman-temannya secara bergilir. Sebelumnya metode penggunaan eskpresi ini pernah kami coba, alhasil mereka jadi pasif dan penonton saja. Barang kali setelah ini akan lebih menarik, ketika mereka sudah terbiasa memahami setiap kalimat yang dibaca temannya lalu nantinya juga dilanjutkan dengan ekspresi.


Buku ini diperoleh atas nama @wenemosparlo, salah satu proyek yang dikelola @albertrahmanp untuk mengembangkan kepedulian terhadap makhluk yang bernyawa.

Mari ajak adik-adik kita dan saudara-saudara kita untuk mencintai semua makhluk hidup.

Desember 2015