Lukisan Lampau: Kabar Indah di Singkarak

Tahun 1905, Eugen Koehler dan putranya Woldemar Koehler pemilik sebuah penerbitan di Jerman, menerbitkan beberapa karya lukis Earnts Haeckel dengan judul Wanderbilder, atau dalam bahasa Inggris “Travel Images”. Haeckel adalah seorang profesor biologi di University of Jena. Ia juga dikenal sebagai pelukis naturalis berkebangsaan Jerman yang juga pengikut setia, pelestari, dan pengembang filsafat Darwinisme di Eropa. Wanderbilder adalah sebuah kumpulan lukisan pemandangan dari tempat-tempat indah yang pernah ia kunjungi di daerah tropis selama melakukan pendataan spesies makhluk hidup. Salah satu dari banyak lukisan itu, terselip sebuah pemandangan kampung di tepian danau dengan latar bukit yang berdempetan. Saya menemukannya secara terpisah di internet. Danau itu adalah Danau Singkarak, tertulis di sisi kiri lukisannya dengan tanda tahun 1901.1 Kalau ditanya, sejak kapan masyarakat dunia mengenal Singkarak, mungkin itu adalah pertanyaan yang sulit untuk dijawab. Tapi setidaknya publikasi lukisan Haeckel ini menunjukan bahwa keindahan visual danau Singkarak sudah terkabar hingga Jerman sejak 1905.2 Continue reading Lukisan Lampau: Kabar Indah di Singkarak

Muara Lembang

I – Pak Mali

Di sebuah sisi danau seekor bangau terbang tanpa koloninya. Sepertinya dia tengah tersesat. Danau diselimuti kabut, seberang tak tampak. Tapi seskali hembusan angin menyibak, orang-orang diseberang sepertinya baru saja panen dan membakar tumpukan jerami mereka. Di dekat saya, sorang wanita terlihat anggun dengan sapu lidinya yang seakan tengah mendayung tanpa sampan. Dia dia tidak sedang berandai-andai mendayung sampan, apa lagi memparodikan cerita nenek sihir yang terbang dengan sapu lidinya. Perempuan ini tengah menyapu sampah yang melayang-layang di perukaan danau Singkarak. Continue reading Muara Lembang

Melayang dan Mengendap Di Muara Berbuih

Lelaki tua itu biasa saya sapa Pak Gaek (Pak Tua). Suatu hari ia meletakkan kopi di hadapan saya. Saya sering mampir di kedai kopi kecilnya setiap kali dalam perjalanan malam Solok ke Padangpanjang. Seperti biasa, ia tidak banyak bicara. Ia senang duduk di kursi malasnya yang berdekatan dengan meja tempat ia biasa membuat kopi. Di meja yang padat itu, tersusun beberapa mi instan, tabung kopi, gelas, kaleng susu dan sebuah radio tuanya. Kalau sudah lewat pukul sembilan malam, biasanya radio tua itu melagukan tembang-tembang Pop Minang. Kemudian ia bersandar menikmatinya sambil memegang senter dan telepon genggam. Ia sering kali terlihat menahan kantuk menikmati lagu-lagu itu, maka saya putuskan untuk mengganggunya.
Continue reading Melayang dan Mengendap Di Muara Berbuih

Untuk Yang Tak Ternilai

Perayaan ‘Tujuh Belasan’ di komplek perumahan Batu Kubung, Solok

Tujuh Belasan (perayaan hari kemerdekaan Indonesia) 2014 ini, saya senang bisa kembali melihat keakraban dan kecerian warga di komplek saya. Kebetulan tahun ini saya mendapat kesempatan untuk menjadi ketua pemuda di tempat tinggal saya, di komplek Perumahan Batu Kubung, Solok. Sebenarnya sudah ada beberapa kegiatan yang sudah kita kerjakan, seperti lomba futsal, goro, pesantren kilat, dll. Tapi kali ini saya sangat senang bisa kembali menyaksikan permainan di perayaan tujuh belasan.  Continue reading Untuk Yang Tak Ternilai

Merah Putih di Papandayan

Sudah sangat lama saya berharap bisa bergabung dengan teman-teman saya yang pencinta alam untuk mendaki gunung. Selain kendala fisik, mendapat izin dari orang tua menjadi masalah utama saya saat itu. Lalu, ajakan datang tiba-tiba dari salah satu teman kuliah saya untuk ikut mendaki pada tanggal 15-17 agustus 2014 yang merupakan hari kemerdekaan Indonesia. Awalnya, saya sempat ragu akan mendapat izin dari orang tua. Namun setelah menjelaskan panjang lebar akhirnya saya bisa meyakinkan orang tua saya bahwa akan banyak orang yang akan melakukan pendakian pada tanggal tersebut. Continue reading Merah Putih di Papandayan

Tahun Baru Oplosan

Di malam pergantian tahun 2013/2014 lalu sebenarnya saya ingin melewatinya di Singkarak, biasany ada banyak hal yang menarik di sana. Tapi sayang sekali, sejak sore hingga magrib, terlihat cukup sepi, hanya kedai-keai dadakan saja yang banyak, sepi pengunjung. Entah kenapa, hingga pukul delapan malam masih saja sepi, akhirnya saya memutuskan untuk pulang. Saya menemui rekan saya Rivo, lalu mengarahkan kendaraan ke daerah Talang, Solok, ada undangan dari teman-teman seperkumpulan untuk merayakan pergantian tahun bersama-sama. Di perjalanan kami berhenti sejenak menyaksikan keramaian dari pinggiran jalan, dekat pasar mingguan Talang. Di sana, dalam sebuah gedung terbuka terlihat lampu dan hiasan yang mengundang. Di sebuah pohon di depan gedung itu tertulis, “Ayo ikuti lomba goyang cesar dan oplosan, menyambut tahun baru 2014”. Continue reading Tahun Baru Oplosan

Perjalanan Ke Danau Talang

Danau Talang: Surga Tersembunyi di Salah Satu Sudut Gunung Talang

Tahun ini bisa dibilang tahun keberuntungan saya. Saya mendapatkan banyak kesempatan untuk mengunjungi tempat-tempat yang ingin saya kunjungi dari lama. Selain kesempatan dadakan ada juga kesempatan yang benar-benar sudah terencana. Salah satunya adalah mengunjungi Danau Talang, the place that I’ve been put on the top 3 of my bucket list instead of Dieng and Tangkuban Perahu. Berbeda dengan Dieng dan Tangkuban Perahu yang saya kunjungi dalam rangka curi-curi kesempatan saat business trip, kali ini saya benar-benar telah merencanakan untuk mengunjungi tempat ini. Continue reading Perjalanan Ke Danau Talang