Mozaik Isu di Hari Kelima

Catatan hari kelima lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi

Hari kelima Lokakarya Lapuak-lapuak Dikajangi, 22 September 2017, setelah shalat Jumat dan makan siang, para partisipan kembali memulai aktivitas untuk pergi mencari data ke lapangan. Partisipan dibagi menjadi dua tim, yang satu adalah Diva dan Kiki, dan satu lagi adalah saya dan Hafiz. Continue reading Mozaik Isu di Hari Kelima

RESPON PERNYATAAN KELIRU RONI DANIEL DI BAKI-NEWS

berikut adalah komentar yang disampaikan pada halaman berita BAKI-NEWS.com yang mengutip penyataan Roni Daniel:

Halo redaksi,

Kita dari Komunitas Gubuak Kopi, ingin mengkomfirmasi ada opini dan pernyataan yang keliru: Kita dari Komunitas Gubuak Kopi sudah beridiri sejak 2011 atas inisiatif pemuda dan seniman Solok, artinya tidak dibentuk oleh Rumah Kreatif (yang kita saja baru tahu keberadaannya sejak Februari 2016) atau kelompok lainnya. Berkaitan dengan kegiatan di pasar itu, Komunitas Gubuak Kopi sejak September tahun 2015 telah punya program panayangan dan dikusi filem reguler (1x2minggu) yang kami sebut Sinema Pojok, dan kebetulan pada hari itu merupakan hari perayaan Film nasional dan teman-teman “rumah kreatif” meminta kita bergabung untuk ikut mengisi kegiatan “yang awalnya” ada agenda pembukaan pasar, tapi itu tidak berjalan dengan baik, jadi teman-teman sepakat untuk melakukan kegiatan perayaan Hari Film Nasional saja. Dan Soal Albert Rahman Putra, sudah bergiat di bidang perngkajian dan produksi film sejak awal berdirinya Komunitas Gubuak Kopi, tentunya juga bekerjasama dengan berbagai kelompok dan institusi lainnya, seperti Forum Lenteng dll, jadi kalau dikatakan: Albert sudah mendapatkan pembekalan dari “sang instruktur” (?) Fuaddy Rossa itu terlalu berlebihan atau tidak sesuai.

link berita: DPORKP Kota Solok Gelar Layar Tancap di Pasar Semi Modern

ttd,
Komunitas Gubuak Kopi

 

13020073_10206254362225558_1702728817_n12992918_10206254362585567_560864127_n13020394_10206254363225583_924718635_n13022211_10206254363345586_1635520905_n

berikut beberapa berita dan publikasi Kegiatan dan keberadaan Komunitas Gubuak Kopi saat awal terbentuk.


Pernyataan ini juga dirilis, mendengar banyaknya pencatutuan nama Komunitas Gubuak Kopi di proposal-proposal permintaan dana tanpa sepengetahuan Komunitas Gubuak Kopi.

Pernyataan ini juga dirilis sebagai permintaan maaf kepada pendiri Komunitas Gubuak Kopi lainnya yang sudah telanjur mambaca berita kelirur tersebut.

Siap siap! “Solok Milik Warga”

Coming soon! Segera menghiasi ruang publik Solok!

smw

Aksi Warga Untuk Solok!

____________________________________

desain & typografi by @albertrahmanp

____________________________________________________

Pada tahun 2015 hingga 2016 (belanjut) Gubuakkopi meluncurkan sebuah program yang disebut Solok Milik Warga, sebuah proyek pengembangan seni sebagai media aspirasi dan ekspresi dalam mengkritisi persoalan lokal. Penelitian telah dimulai sejak September 2015 lalu dengan melakukan pemetaan masalah yang berdampak pada keapatisan warga terhadap kota ini, kota Solok. Project ini juga merupakan pengembangan dari program Aku Kita Dan Kota (me, us, and the city) dalam mengkritisi kontribusi warga terhadap kota (2012). Kali ini, Gubuakkopi mengajak pekerja dan peneliti seni untuk terlibat dalam proses riset singkat. Setiap partisipan akan diajak tinggal dan berinteraksi bersama warga selama satu minggu sekaligus memproduksi karya dengan fasilitas yang ada disekitar warga. Project ini akan dimulai pada Maret 2016 nanti.

At 2015 to 2016 (continued) Gubuak kopi community has launched a program called “Solok Milik Waga” (Solok the city of citizens), a development project of the arts as a medium of aspiration and expression in criticizing the local issue. Research has started since September 2015 and by mapping problems affecting to the citizen apathy towards this city, Solok city. This project is also the development of the program “Aku, Kita dan Kota (Me, Us, and the City) in criticizing the contribution of citizens to the city(2012). This time, Gubuakkopi invites the workers and researchers of the art engage in the process of doing some quick research and production of works in response to the city and an introduction to the form of art as a medium with all the availability of facilities. This residency activities will be implemented in March 2016. Each participant artists will be invited stay and interact with the residents for one week at a time to produce work.

Dengar Senandungku

Senandung Indah Untuk Solok

Dengarkan lah wahai sahabat
Kuingin bersajak tentang kisahku
Kaki kecil yang menapak halus
Ketika pagi masih berpagut dengan mimpi
Disaat burung mulai menyuarakan sunyi
Sepenggal masa yang aku lalui disebuah sudut alam
Keindahan yang maha agung
Keajaiban alam yang memukau
Bertaut dalam masa indah yang membayang Continue reading Dengar Senandungku

Kisah Tentang Ibu

Kau mau tau kisahku?
Kisah ini tentang Ibuku
Memang bukan Ibu yang melahirkanku
Tapi tentang ranah yang menerimaku
Aku tak melihatnya entah dari sebutan Kota atau Kabupaten
Aku hanya merasakan keberagaman
Meresapi indahnya yang menawan
Ibuku tetaplah Satu dan menyatu
Yang tak mengeluh ketika dirinya mesti dibagi
Hingga perseteruan pun muncul di jiwanya yang Satu
Menantang hidup yang bermakna saru
Bagaimana ku menatap Ibuku?

Continue reading Kisah Tentang Ibu

Pulang

 

Menapaki kerikil menyongsong debu jalanan
Menyusuri lautan pasir mengikuti laju asap
Perlahan baris lukisan kenangan masa lalu mendesak
Menyerupai bayangan abstrak tak berrongga
Dan kucoba untuk mengingat lagi
Hamparan ilalang dikaki bukit
Menatap canggung pada awan
Hingga danau pun beriak manja
Membekas dan menyuarakan nada Continue reading Pulang

Buku Besar “Tatanan Adat Selayo”

Buku tatanan adat nagari selayo
Buku tatanan adat nagari salayo

Buat kawan – kawan yang tertarik untuk riset atau mengetahui lebih dalam mengenai Nagari Salayo dan Kubuang Tigo Baleh, semua informasi sudah bisa didapatkan melalui buku “Tatanan Adat Nagari Salayo” yang telah disusun oleh beberapa tokoh adat Nagari selayo. Continue reading Buku Besar “Tatanan Adat Selayo”